Sebuah Renungan

Saturday, September 27, 2008




Sungguh aneh orang-orang yang menangisi jasad yang telah mati akan tetapi mereka tidak menangisi hati yang mati, padahal matinya hati lebih menyedihkan daripada matinya jasad.


Mereka mencari obat paling mujarab kemana pun dan kapan pun untuk penyakit jasad, akan tetapi tidak peduli sama sekali terhadap hati yang sakit, padahal penyakit hati lebih menakutkan. Dengan meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar sebenarnya mereka telah mengabaikan obat penyakit hati.


Mereka sangat khawatir akan menyebarnya penyakit jasad, melakukan segala usaha preventif, sangat berhati-hati menghadapinya, mengeluarkan segala daya upaya dan harta untuk mencegahnya, akan tetapi mereka melalaikan kesiapsiagaan untuk menghadapi penyakit hati kecuali orang-orang yang mendapatkan hidayah dari Allah Ta'ala.


Bahkan mereka menejek orang-orang yang berusaha mencegah menyebarnya penyakit hati, mereka berusaha untuk merusak semua sarananya, mereka menganggap orang-orang ini sebagai kelompok terbelakang, primitif dan tidak mengikuti trend.


Sesungguhnya penyakit fisik hanya memberikan efek kepada orang itu saja, atau jika menular ia tidak akan menular kecuali kepada segelintir orang saja, akan tetapi penyakit hati akan menyebar kepada seluruh umat, menyebabkan akibat yang ujungnya sangat buruk.


Saudara-saudaraku.. ketaatan kepada Allah Ta'ala merupakan satu keniscayaan untuk menjaga kelangsungan hidup hati seorang hamba. Seperti keharusan tersedianya makanan dan minuman untuk menjaga kelangsungan hidup tubuh seseorang.


Kemaksiatan adalah makanan beracun yang dapat merusak hati. Bagaikan makanan busuk merusak tubuh bahkan bisa membunuhnya.


Seseorang yang selalu berusaha menjaga kehidupannya dengan memenuhi kebutuhan badan (fisik)nya dengan makan secara teratur, maka jika suatu saat ia memasukkan makanan yang mengandun racun atau makanan basi ke dalam tubuhnya maka hal itu dapat membunuhnya.


Sesungguhnya kehidupan hati harus mendapatkan perhatian lebih dari hal di atas, maka jika kita melakukan satu dosa selayaknya kita segera mensterilkan hati kita dari dosa ini dengan bertaubat dan menyesal.


Hal ini jangan disalahartikan bahwa kita tidak perlu memperhatikan kesehatan fisik, sehingga ketika fisik sakit tidak perlu berobat, sekali lagi tidak, pesan yang ingin saya sampaikan ialah bahwa sebagaimana kita memperhatikan penyembuhan dan pengobatan penyakit fisik hendaklah kita memperhatikan pengobatan hati dalam kadar yang sama.


Karena sesungguhnya jika seseorang meninggal dunia karena penyakit fisik yan ia hadapi dengan sabar dan selalu berharap kepada Allah Ta'ala, insya Allah balasannya adalah surga.


Akan tetapi orang yang meninggal dalam keadaan hatinya sakit yang belum pernah ia obati dengan taubat, penyesalan dan kemauan kuat untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut, mereka itu ialah orang-orang yang hatinya mati sebelum fisiknya mati, sesungguhnya nasib merekalah yang harus kita khawatirkan.


Saya merasa sangat heran kepada orang-orang yang apabila ia merasakan sedikit rasa nyeri di jantungnya, ia akan segera merasa kebingungan dan segera mencari obatnya bahkan buru-buru ia mencari dokter paling bagus, bertanya kesana kemari untuk mencari dokter tersebut. Hal ini memang logis dan bisa diterima akal, hanya saja sikap mereka tidak adil. Jika hati salah seorang dari mereka yang ketakutan dari penyakit fisik tersebut terluka oleh satu perbuatan maksiat, ternyata sangat sedikit yang segera berobat dengan taubat dan penyesalan.

Apakah mereka tidak ingin menghadap Tuhannya dengan hati yang sehat (bersih) sehingga mereka bisa meraih surga? Allah Ta'ala berfirman,
"(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS As Syu'ara:88-89)

Sungguh tidak ada yang selamat pada hari kiamat kecuali mereka yang menghadap Tuhannya dengan hati yang bersih.

Jika kehidupan seseorang yang terbebas dari segala penyakit fisik mengantarkannya untuk menikmati hidup yang aman dari segala penyakit, maka sesungguhnya kesehatan hati akan mengantarkan seseorang menuju kehidupan yang bahagia di dunia dan kebahagiaan tak terbatas di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, "Bukankah di dalam hati ada segumpal daging, jia ia baik maka baiklah seluruh tubuh tersebut, akan tetapi jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh tersebut, ketahuilah ia adalah qolbu (hati)."

Saudaraku, hendaklah engkau selalu merawat hatimu agar selalu sehat terhindar dari segala dosa, selalu mencintai makanan-makanan bergizi berupa ketaatan, selalu membenci segala macam makanan yang terkontaminasi oleh kemaksiatan, seandainya hatimu terkena imbas dari penyakit ini maka bersegeralah untuk mengobatinya dengan taubat dan penyesalan.

Allah Ta'ala berada di balik setiap kehendak, dan semoga Allah Ta'ala melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.

*taken from the book "Kesaksian Seorang Dokter" by dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jubair, SpJP

3 comments:

namaku wendy said...

jagalah hati jangan kau nodai jagalah hati lentera hidup ini:)

Izzul_Cool said...

renungan yang indah

bapakethufail said...

hmmmm.... sanat2 inspiratif